Tampilkan postingan dengan label Diambang batas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diambang batas. Tampilkan semua postingan

Minggu, September 01, 2013

Sujudku

Sujudku
Atas Jiwaku
Atas Hasratku
Atas dambaku
Atas apa yang tercipta memenuhi dogma

Sujudku
Terhadap Mu
Kepada Mu
Untuk Mu
Agar apa yang terjadi tak membutakan jiwa dan hati

Sujudku
Kuingin selalu
Curahkan segala bentuk yang ta kumengerti ataupun yang tiada dapat kupahami
Agar tak jauh dari kehendak Mu

Sujudku
Penenang jiwaku
Pengharapaku
Pembalian terhadap batas kemampuanku
Pada Mu Ya Rabb


Jumat, Juni 28, 2013

Sekian masa Asa ini bergulir

Sekian masa asa ini bergulir memenuhi rongga jiwa
Titik balik pahatan yang telah terjadi
Terenungi arti
Tentang damba hidup
Tercatat lembar lembar dalam setiap hembusan nafas
Arti yang tak pernah diingini..... tentang pernyataan akan kenyataan kehidupan
Kehidupan yang telah terjalani
Mengerti tapi memungkiri
Menepis tapi mengingini
Membungkam tapi terlantunkan
Irama menjadikan ada tapi tiada
Tertata rapih
Sebuah wujud keinginan hasrat jiwa
Menjejali diri dengan dogma
Menyiasati diri atas kemungkinan
Kemungkinan atas tiada
Menjadikan kelam pada langkah
Membunuh jiwa perlahan
Diantara mega tertulis kisah
Begitu banyak goresan menjadikan kelam tanpa ada jeda

Sekian masa asa ini bergulir
Tiada harusnya mimpi itu terus tertanam
Mimpi indah berbalik menyakitkan
Tertahan pada masa
Tak ada guna tetap ada
Tak ada guna merasa
Karena ada berupa bayang
Cipta indah khayal
Mimpi pada benak

Sekian masa asa ini bergulir
Tandailah nyata bukan berkecamuk semunya damba hati
Takan pernah berhenti
Takan pernah
Tapi .... harus terhenti meski tak teringini



Minggu, Juni 23, 2013

Ketika semua itu kembali kelam

Dimana semua kembali kelam
Dimana sesak begitu menjelma dalam jiwa
Tersungkurlah jiwa pada kehidupan
Mencoba menahan aral yang mendesak
Mematikan semua keinginan atas hidup
Tiada
Bertahan serta menepiskan tapi gelombang itu terlalu keras menerpa
Tak kokohku bertahan
Terseretlah dalam gelombang yang menghenyakan
Menjadikan luluh lantah

Selasa, November 15, 2011

Langit mendung diatas jakarta

Kutatap seberkas langit hitam
Bersama air jatuh menyentuh kulit ari
Membasahi tubuh bersema helai demi helai kain yang basah
Dingin menyentuh kulit dan tulang
Basah yang ada tak menyegarkan tubuh
Langkah kaki terus melaju tak peduli

Gemuruh suara mewarnai seiring tapak memecah air
Gelombang jiwa tiada henti mendesahkan gelora
Semakin hari semakin menekan tuk meredam lara
Adakah yang di mengerti untuk sebuah tapak yang telah terjadi
Hanya memungkiri atas keinginan diri

Lembayung mengiri langkah sang kaki
Terhenti dibawah pohon rindang pada sebuah tepi
Memandangi hiruk pikuk kehidupan yang silih berganti
Air tetap menghujami ....
Dimanakah perasaan hati ini serasa tak memiliki ujung dan tepi

Angin perlahan membawa pergi
Tapi tubuhku masih tetap berdiri terpaku
Tiada tepi tuk bernaung atas isyarat hati ....
Mencoba mengerti apa yang tak terpahami
Mencoba memahami apa yang tak dimengerti

Melangkah dan terus melangkah meski terhenti tapi terus melangkah
Karena hidup mesti terlangkahi meski tak diingini
Terus lah mencari meski tak diketahui
Apa yang dicari untuk apa di kehendaki...
Atas apa yang terpahat untuk kehidupan yang mesti terjalani


Sabtu, Oktober 29, 2011

Strees stadium 1,1


Cabikan itu mengores perlahan
Lalu cepat.... merobekan semua
Tekanan itu tak bisa tertahan... perlahan tapi terus dan terus bertambah
Sungguh ku tak berdaya
Perih goresan mengoyak jiwa dan raga
Meneteskan darah perlahan tapi luka begitu banyak
Tubuh telanjang dengan berpakaian darah mengalir tanpa henti ....
Sesak mulai terasa diatara keperihan sambil menahan beban berat semakin berat
Gemetar seluruh raga .... dengan pandagan mata yang tiada makna
menanti hembusan terakhir terlepas dari raga....


kucabik jiwa renta yang terhujam
Kutelanjangi serpihan raga
Atas dunia yang menyesakan rongga
Kutelanjangi tanpa ada yang tersisa
Sudah ... sudah ..... berat sunguh 
kutak kuat menahan sentakan atas apa yang terlanda
Serpihan belum tertata
Serpihan belum terangkai
Kini .... semakin hancur bertembaran
Sudah ... apakah ini kehidupan
Sudah ..... apakah harus terakhiri dengan hembusan terhenti
Tiada dimengerti sungguh tiada dimengerti 

Stress stadium 1

Kumaki akan diriku
Kuhenyakan dalam raga pada titik hitam pekat akan kehidupan
Dimana nafas terhembus begitu menyesakan
Tiada dapat tangan ini mencari pegangan
Semua terasa menepis
Terhenyak dalam kelam....
Tersudut dalam ketidak berdayaan
Mengapa.... hempasan gelombang aral ini melambungkan ku dan menghujamkanku
Dimana pedang pedang tajam dengan indahnya menyayat kalbu
Apakah semua ini akan ada akhir atau takan pernah akan berakhir
Dalam ketidak adaan akan sebuah makna
Dalam kebimbangan dalam langkah
Terjeritlah sang batin akan diri yang tiada daya
Hanya ada kata lirih ...... Tak terdengar

Tiada hamparan cahaya yang tertangkap sudut jiwa
Kelam menyeluruh
Hitam mengulung
Hidup inilah hidup
Jiwa terkapar tiada daya,bersama raga yang tiada daya

Sendiri hanya sendiri dan jangan berharap akan adanya raih sebuah damai
Karena saat tangan itu mencoba meraih desakan itu semakin meneggelamkan jauh kedalam tak tercapai

Senin, Oktober 24, 2011

Bersitan Jiwa merandang sukma

Sepenggal nyawa bersama rasa pada bersitan jiwa
Ketiada tahuan tentang apa yang sedang menekan dalam rongga
Mengapa ada, yang menginginkan perih ada terkaparnya sang raga demi sebuah cipta yang entah apa
Dunia.... dalam dunia terhadap kepuasan semu
Jiwa yang menghadang dalam benteng keterbatasan penglihatan
Apa yang dimau sang hidup ... dalam dilematik nafas yang sepenggal
Manusia dengan nanar keinginan menghujam apa saja yang dikatakan benar
Tanpa peduli apa yang yang akan terjadi, untuknya terhadap yang dilakukannya
Menyakiti, tersakiti, menginginkan kebahagian yang mungkin tiada
Apakah hidup itu ....
Menggigil sang jiwa menatap jingga bergulir diakhir senja.....
Entah kapan datangnya sang  akhir itu
Jiwa menahan tabir yang tersentakan
Dimana semuanya mempengaruhi rongga yang mendesir disekujur tubuh
Mencabik cabik ......
Mengalirkan desiran perih penuh nanar

Jumat, Oktober 21, 2011

Sesuatu yang terasa


Tlat habis kata dalam sudut bibir yang mengambarkan arti tentang sebuah getaran sukma dimana pencarian celah mengapai titik jawab pada sebuah bersitan yang mendesak. Rasa untuk sebuah hal yang tidak diketahui meski mungkin diketahui atau bahkan lebih dari ketidaktauan barang kali juga menjadi sebuah ketidakingintahuan.
Perjalanan hari saat sang surya perlahan menghangatkan bumi, membangunkan jiwa-jiwa untuk mencari arti atas kehidupan yang mesti terjalani. Tapi tidak dengan jiwa ini, setiap jengkal nafas yang terhembuskan membawa tanya tentang apa yang sedang terasa dalam lenung jiwa, menghantarkan pekat dalam benak bersama titian waktu, tergelutilah tanya, tercumbuilah rasa, tapi tak diketahui apa yang sesungguhnya arti sentakan yang ada. Hangat mentari itu terasa menyentuh meski tak ternikmati oleh tubuh, letih menahan sebentuk getaran diantara ada dan tiada.
Terus melangkahlah sang waktu membawa jiwa serta tubuh dalam ruang yang berbeda, menatap terang sang mentari, terliat hanya dipelupuk mata. Diri menahan sukma atas getar yang tak kunjung hilang, atas rasa yang tak kunjung terketahui atas jiwa yang entah apalah. Benak hanya bertanya apakah sesungguhnya terasakan, makna. Kelabu semakin memeluk erat tanpa bisa menolak untuk meniadakan, syair peredam jiwa tak terlontarkan. Terteriakanlah kegalauan jiwa ............. Apakah gerangan.
Remasan demi remasan semakin terasa, semakin tak terurai..... tapi mengurai raga dan jiwa kedalam semakin dalam pada ketidak tahuan yang mendesak.  Sendiri .... 

Sabtu, Oktober 08, 2011

Saat gelap menyelimuti altar bumi

Mata memandang kelam altar dunia
Ramai terliat kasat mata
Kelap kelip duniawi
Menutupi akan jati diri
Lupa hati ...
Nafsu yang dicumbui..
Mengindahkan sisi kemurnian hati
Mencengkram dalam ....
Menghenyakan sukma yang merintih
Membodohi yang terasai

Dan

Kuterjaga dipagi ini
mendung menyelimuti bumi
seiring irama jiwaku yang mengundang rasa
Entah mengapa kau masih ada
Padahal kibasan sembilu pedang mengores luka
Buat apa terasa ... jika yang ada hanya fatamorgana
Kuterdiam menekan dalam asa
Tapi sukma terbang tak diam
Dinding kosong sebuah ruang
Kupejamkan mata menelaah ...
Tiada ....
Kutak kuat masuk jauh lebih dalam

Dan

jangan hanya kau liat aku
jangan hanya kau pandangin aku...
karena takan luruh rasa ini
jangan kau hanya menatap
tapi dekaplah aku
agar luruh rasa jiwa ini meski hanya sesaat



.................


Minggu, April 03, 2011

Sebuah kata jiwa






Teruntuk cintaku – 3 April 2011 (00.32)
(sebuah kata dari Hasrat rasa manusia)

- Prolog -

Getaran jelmaan keindahan
Tiada munafik
Sebuah rasa hasrat jiwa
Meskipun berbentuk angan
Rangkuman lukisan batin terhadap kumandangan pancaran asa
Murni ...putih serta tulus dan suci
Jamahan getaran terhadap hasrat yang terpahat
Membuahkan keinginan atas angan tak terbendung
Menjadikan rona indah tak terjamah
Tiada munafik tertuangkan lewat kata menjadikan nada nada atas irama kehidupan
Benar tidak benarnya Asa itu tetap sebuah Dogma keinginan teringini pada diri setiap insan
Itulah cinta... menjadikan manusia ada dan tiada,
Menapak serta gamang pada perjalanan langkah hidup
Tiada terpungkiri tak ingin memungkiri hanya mengambarkan rasa cipta karya sang jiwa




- Aku dan rasa ku terhadap angan atas jiwa yang menginginkan Indahnya cinta –

Dimana apa yang ada atas sebuah hasrat itu selalu terindamkan dalam bentuk angan, tertanam jauh dalam lubuk hati, terukir, menjadikan sebuah kisah atas hidup yang terjalani. Mengerti dan tidak di mengerti, mengapai meraih keinginan yang terlandasi pada sebuah getaran halus sang jiwa, menyadari meskipun lebih cenderung tak disadari tentang kehadiran bersitan jiwa terkumandanglah asmara membara memupuk sebuah dilema, tersayatlah sang batin dimana setiap rasa itu hadir dalam lenung.

Dari sekian banyak yang terlampaui atas nadir kehidupan, insan manusia selalu mencoba meraih makna akan diri untuk kehidupan terhadap landasan yang mencoba tuk digapai, lewat sebuah khayal indah yang membuahkan hasrat serta gelora yang tak dapat disangkal dan dihentikan oleh sang nalar, begitu banyak keagungan yang terangkai, lewat kata ataupun sebuah sketsa, banyak gelora suka senang tergambarkan dengan jelas meski kadang samar. Jiwa jiwa rintih akan keindahan yang menghujam raga menyeluruh. Tersampaikan terus terungkapkan meski arti yang ada belum tentu dapat teraih dengan nyata, mengerti atau tidaknya insan tetap meraih meski apa yang teringini teraih perih tapi itulah dunia atas kehidupan semesta.

Jiwa menginginkan, bak haus sang dahaga untuk meraih sebuah asa yang ada... jauh melangkah jauh meraih jauh pengapaian kadang tidak diperdulikan hanya ingin meraih walau tiada terpedulikan, hasrat hasrat yang meregang kosong serasa tak bernyawa tanpa tujuan yang lain selain mengapai dan terus mengapai, hidup dalam perjalanan pencarian asa (cinta) benarkah akan hal itu ataukah asa itu hanya sebuah fatamorgana, dentuman dentuman yang ada bak bom yang siap untuk meledak serta akan meluluh lantahkan segala yang ada dalam diri bila tak teraih .... khayalan demi khayalan indah membawa duka tercipta, menganggap takan bisa hidup tanpa terengkuhnya sebuah asa (cinta) atas kemurnian yang terpahat dalam dada, tak bisa tersentuh hanya dapat terasa ....

Naiflah sang diri bila merasa bila tak terlandaskan dengan nyata, terpendamlah sang sukma, terkuburlah sang raga, tiada gairah dalam menjalani hanya terasa bersitan perih sang hati, mengalir pada sentakan jantung memompa sang darah pada setiap sudut tubuh. Tiada tempat berpijak hanya terasa gamang dalam menapaki rimba kehidupan. Nyeri yang ada tiada dapat terlukiskan oleh kata, gelap sudah perjalanan kehidupan yang nyata, keindahan yang semula begitu indah berbalik membunuh perlahan sang raga dengan sayatan-sayatan tipis pada hati dan terasa sakit menyeluruh dalam raga. Buram sudah kehidupan dimana hidup serasa bagai terhenti. Dasyat sungguh dasyat hasil cipta rasa atas asa (Cinta) dapatkah terhenti begitu saja ..... TIDAK .... karena bila rasa itu telah hadir dan memang benar hadir serta tulus dirasa. Rasa itu tak mudah udah dihilangkan bahkan mungkin tak dapat di hilangkan sampai ajal menjemput raga.

Tertulis apa yang ada, tergema apa yang tercipta mencoba menghadirkan bersitan yang mengelora, meskin nada yang terlahir adalah nada pembunuh sukma. Pijak kaki tak menapak untuk mencari jawaban atas risau yang melanda ... untuk apa ada untuk apa tercipta mengapa begitu terpahat dalam pada sebuah sukma sanubari jiwa. Hanya kata hanya kalimat menjadikan semua terasa nikmat meski tiada sama dengan seluruh yang terasa tapi... merupakan gambaran samar yang tercipta.

Disini bersama racun dunia (rokok, cappucinno) dan Sebuah Laptop yang setia menemani diri yang terkumkum dalam keinginan atas keindahan dunia hasil dari cipta rasa yang indah meski hanya sebuah khayal bagi diri. Telusuri makna yang ada pada setiap insan tentang apa sebenarnya makna hadir rasa itu, mempelajari dengan seksama tapi tetap saja tiada kepuasan didapat... tengelam terus tenggelam karena keinginan itu semakin menghujam ... tiada yang salah atas apa yang terasa, tiada yang salah atas apa yang menjelma karena semua adalah murni terasa, meski masih dalam sebuah angan belaka, hidup memerlukan sebuah mahligai keindahan sehingga tercipta sebuah kedamaian dan pada akhirnya akan mampu menjejaki kehidupan serta menantang segala aral yang melintang dalam roda kehidupan.

Waktu terus berlalu masih saja sibuk dengan keinginan diri, tiada naif damai itu sangat teridamkan dimana setiap insan memerlukan insan lain tuk menemani setiap gerak dalam langkah kehidupan, tak mungkin menjalani sendiri karena hidup penuh dengan suka duka dan dilema, Manusia adalah insan yang lemah meski tertulis mahluk paling sempurna, dikatakan lemah karena manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain.
Dan aku adalah seorang insan dengan segala kekurangan yang begitu banyak dimana dilema kehidupan ini cenderung kutelan sendiri, tiada yang sempurna pada diri hanya sebongkah tubuh berisi dengan peluh dunia yang terangkum dalam jiwa yang merana... tertulis hanya dapat tertulis meski tulisan penuh dengan segala aral, karena itulah yang terasa sukma dan jiwa. Bukan tak menyadari akan kaidah diri dalam menapaki arti kehidupan ini, tapi hanya ingin mengetahui apakah tiada akan pernah ada damai
kehidupan atas rasa yang mengelora itu terasa dalam setiap jengkal hentakan nafas dengan nyata... indah sungguh indah dalam angan tapi terapan dalam kanvas kehidupan itu tak ada....

Waktu yang ada mungkin semakin akan tiada lagi, diri hanya dapat memandang... diri hanya dapat merasa.... diri hanya dapat berangan tuk meraih sebuah damai indah ciptaan rasa yang terwujud pada sebuah asa (cinta)

Rasa hadir
Rasa menjelma
Rasa terpahat dalam lenung jiwa
Berkumandang ...
Bergelora ....
Terus dan terus ....
Menjadikan hasrat yang begitu besar
Rasa itu ...
Jiwa ini ...
Menginginkan ...
Bukan sebuah angan belaka tapi nyatalah yang ada
Titik titik noda...
Nadir jiwa yang menyeluruh
Bertasbihkan asa yang terindah
Hanya khayalan semu yang teraih... mimpi indah pada setiap langkah
Timbulah kemunafikan, pemungkiran apa yang ada dan tercipta
Peredaman gelora yang terasa .... menghantarkan sukma meregang dalam dilema
Mungkin benar bila kemurnian asa itu tiada dapat dipungkiri, tiada dapat dihempaskan dan tiada dapat dilupakan serta ditiadakan
Indah damba, indah khayalan, indah damai mimpi atas asa untuk insan insan yang diberi oleh Nya....
Tapi ... entah buat diri ....
Tapak ini masih tertapaki ... indah damba itu masih memenuhi diri, membawa kealam bawah sadar..
Tak urung sang raga terlempar perih... dinding dinding kosong dicumbui...
Sudut sudut sepi kehidupan adalah teman sejati diri ...
Tiada naif terasa dan menjadi khayalan indah dalam setiap waktu meski hanya gambar yang menemani...
Pembuktian itu telah terbukti ... Putih suci asa itu hanya merupakan khayalan indah semu atas kehidupan ...
Bukan buat kalian tapi buatku ...
Kudapat memberi, aku dapat membuat tapi tak buat diri
Jalani terus menjalani meski hujaman menyeret dan menyeret kedalam lembah lara .... tapi kemurnian asa itu tetap termiliki.. tanpa kemunafikan seperti yang pernah terucap dan takan pernah ingkar... meski cenderung tidak benar.
Waktu itu semakin sempit mungkin tiada akan ada hari esok tapi kata hati selalu berkata .... biarkan rasa itu ada walau hanya akan membuat dilema, biarkan segala kemunafikan itu hanya diri yang mengetahui tetaplah tersenyum walau setiap sudut pandang itu terasa nanar, landasilah dengan asa yang ada meski tak terjelma dengan nyata, walau hanya tercumbu lewat bayang semu tapi mungkin hanya itulah pahatan kehidupan yang telah tergariskan untuk diri.... biarkanlah biarkanlah... sampai ajal menjemput raga...
(21:27 wib)

Rabu, Maret 30, 2011

Tiada




Tiada .....
Tak ada.....
Apa yang terasa tak terasa...
Kemana
Terasa gamang tapak yang ada
Pergi ... tak terjamah
Hitamkan hari yang terlalui
Dimana ......
Hilang.....

Minggu, Maret 27, 2011

Ku Mohon atas apa Yang melanda


Ya aLLah dalam lenung sepi kupajatkan doa...
Memohon terhadap tapak kehidupan dunia
Sungguh begitu takut diri ini merasa....
Atas tapak kehidupan yang nyata



Ya Allah.....
Sujud hamba dalam kesunyian....
Mengemakan sayatan dalam lenung jiwa
Yang terus mengores dalam ..... atas rasa asa dan damba
Ya Allah....
Berkali kali aku memohon
Tiada kuasa hamba menahan....
Sungguh kekuatanku telah memudar...

Ya Allah .....
Kekhawatiran mulai tumbuh
Saat memejamkan mata.... mungkinkah saat membuka mata masih akan terliat dunia
Hatiku mulai galau....

Ya Allah
Rapuh raga jiwa dan rasa yang terasa
Gundah, Gamang menjejaki dunia...
Nadir yang di hasilkan sang asa... menghujamkan diri dalam keinginan yang melanda
Dunia atas keindahan yang penuh dengan dilema

Ya Allah
Setiap jengkal lafaz serta doa yang kupanjatkan atas permohonan jiwa
Nistakah keinginan itu, atau damba yang tercipta atas asa itu terlalu tinggi
Mengabaikan terus mengabaikan.... tapi keletihan selalu hinggap
Tiada kepercayaan lagi yang ada, hampa semakin terasa menusuk raga

Ya Allah
Titik nadir ini begitu menghujam
Salah .... atau Dosakah rasa itu
Mengharap damba dunia atas rasa yang memberikan damba dan harapan
Letih menaifkan diri atas tapak yang terpahati

Ya Allah
Indah yang ada Indah yang Tercipta atas sebongkah jiwa yang mendendangkan irama
Detik terus berlalu
Menit telah lewat
Tak terasa mungkin telah sampai usia
Gambaran gambaran itu jelas.... Tapi tiada ada untuk terjalani

Ya Allah
Goresan ini adalah sebuah permohonan
Jiwa raga dan asa ...... Atas damai yang teringini
Bila memang tak ada cipta asa itu menjadi nyata ....
Bersihkan diri ini atas asa dan damba
Matikan hasrat jiwa yang mengumandangkan keindahan dunia

Ya Allah
Biarlah semua tersimpan dalam
Biarlah semua menjadi pahatan terakhir dalam kehidupan
Atas diri yang selalu menginginkan tapi menaifkan

Ya Allah...
Hamba memohon atas kehidupan yang belum terjalani
Bukan hamba mengingkari atas apa yang Kau beri tapi Sudut perih ini sudah tak kuat menekan hasil cipta asa
Tak ingin Naif, Tak ingin memungkiri, Sungguh diri membutuhkannya ... mengharapkannya .... mendambannya
Dimana saat fikiran merasuk dan hati terpuruk serta raga berdendang membuat getaran sehingga jiwa terhempas
Mungkin lebih baik tiada, bahkan tak pernah akan ada lagi
Sehingga tiada harapan, damba, bayangan, untuk rasa

Ya Allah
Yang terbaik adalah MilikMu....
Apa Yang tercipta adalah KehendakMu
Hamba hanya memohon untuk apa Yang terjelma dalam diri
Ketiada mampuan Hamba... atas rasa damba dan menekan untuk segala kemunafikan yang terjelma
Jadikanlah hamba tiada rasa untuk sebuah asa yang selalu di damba


Amien.......

Kamis, Maret 24, 2011

sebuah perjalanan


Deru sang roda bergesekan antara besi dan besi
Membuat bunyi decitan..
Hiruk pikuk manusia tenggelam dgn apa yg ada dlm benak mereka..
Deru itu smkin menderu.. Meninggalkan sbuah kota.. Begitu jg dengan irama jiwaku..
Sesak yg menekan, atas gelombang aral sang rasa.. Yang membuatku melambung.. Menembus batas dan terhujam..
Terkapar,terhempas..tak berdaya diatas altar kehidupan..
Sesak smakin menekan..
Peluh bercucuran.. Batin meneriakan.. Diri meredam..
Deru semakin menderu.. Suara smkin jelas ditimbulkan bersama bertambahnya laju..
Otak smakin terasa sakit..
Menelan atas gelora yg ditimbulkan..
Semakin lama semakin tak terbendung..
Lirih smakin lirih...
Hanya pelan ku ucapkan..
Aku Rindu padamu Cintaku
Salahkah aku dengan apa yang aku rasakan
Salahkah aku dengan cinta yang tercipta
Salahkah aku.. Dengan smua yg ada..
Ku coba diam.. Menekan dalam..
Deru semakin menderu..
Membawa raga pergi.. Dan segumpal asa atas rasa..
Padamu ... Hanya padamu duhai cintaku
Sesak smkin menekan, remasan diotak smakin terasa..
Tapi deru itu tak peduli..
Antara sadar dan tidak hati kecilku berucap..
Aku tak kuat sungguh aku tak kuasa..
Kasihku

Senin, Maret 21, 2011

untuk sebuah rasa





aku ucapkan cinta karena aku cinta...
Mengatakan dengan seksama karena itulah yang terasa
Tiada apapun .... yang teringkari...
Bukan tak mau diam... bukan tak mau memendam dan bukan tak tau diri...
Pencurahkan, pengungkapan karena sungguh memerlukan hal itu....
Aku butuh cinta
Aku butuh kamu...dalam mengarungi hidup
Cinta itu perlu di ungkapkan agar di ketahui..
Cinta itu juga perlu di jelaskan agar di mengerti
Cinta juga perlu singkronisasi ... agar selaras
Apakah harus munafik dengan diam.... tapi sebetulnya menginginkan
Apakah harus memendam padahal hati selalu bergejolak...
Tidak ... lebih baik terjabarkan walaupun tercampakan...
Kurasakan apa yang terasa dengan segala ketulusan
Orang bilang kalau cinta itu tak harus memiliki....
Aku sudah muak dengan kata seperti itu ...
Bagiku merasa cinta karena sangat membutuhkannya, memerlukanya ...
karena letihku .... mengapai ..
Tak apa tercampakan ....
ku jujur akan diri sendiri .... sebab apa yang ada tercurahkan...
Banyak orang bilang jodoh pati lara ada di tangan Nya...
Tapi bila semua itu tidak teraih .. mencoba di raih ... maka tidak akan ada...
Apa yang ada didunia ini tidak akan dapat di raih dengan diam
Bila memang dengan diam akan teraih juga .. maka tak ada manusiapun bekerja keras untuk meraih sesuatu....
Aku cinta... sungguh aku cinta dan itu bukan dusta... dan mendustaimu....
ku harap kau tau itu wahai cintaku


Sabtu, Maret 19, 2011

Di ambang batas


Di ambang batas

tertahan ..... menekan dalam lenung jiwa
Mengejar apa keinginan atas sebuah hasrat diri
telanjangi hati ...
Ilusi ..
Menjejali.... atas damba keindahan duniawi
Hasrat hati mencari, sebuah asa sulit dapat terhenti
Nyanyian kidung mengalun, menyentuh sudut diri
Walau kini tak sendiri lagi,
Mengema damba.... tak pernah tertemui
Melepas lirih desakan hati, atas nyayian asa membumbung .....tinggi,
Sebuah kesempurnaan mimpi ...

Di ambang batas

Nyanyian semakin lirih.....
Telah tercurahkan ....
Lukisan, ukiran atas pahatan asa ... murni ...
Tiada kemunafikan ... hanya ingin merasa, seperti lintasan damba atas cerita indahan hidup
Hela nafas tersentak, kicauan hati bernyanyi ...
Ilusi ... atas asa penciptaan kalbu
Pilu, peluh mengulung



Diambang batas

Damba keinginan peniadaan berbaur dalam satu
Menghentakan, Menginginkan, Menepiskan
Raga bak ternoda
Pengemis asa pada jiwa yang merasa
Aroma tak terarah
Ta bungkam untuk mengungkapkan
Ta bungkam untuk mencurahkan
Ta bungkam menahan rasa
Tapi semua tiada
Ungkapan sebuah kejujuran jiwa, terliat bak peminta
Kegersangan jiwa menjadikan buta
Memuja ta henti
Mengagungkan ... untuk diri

Diambang batas


Tiada kekuatan diri
Sisa hampa mengulung raga
Ukiran rasa terpahat, dalam... membentuk wujud pada lenung jiwa
Pupus
Meniadakan tak semudah saat mengadakan
Ta perlu diungkapkan, ta perlu di lukiskan .... lagi
Lenung jiwa tetap merasa meski damba menghasilkan kerinduan atas hasrat
Sadari arti
Ilusi kehidupan .... terindah (cinta)