Rabu, Januari 25, 2012

Cumbuan sang rasa


Seperti yang pernah terangkum dalam kesimpulan
Pada sebuah buku kehidupan
Tentang sebuah perjalanan .....
Bukankah telah tergambarkan atas apa yang terpertanyakan...
.
.







TIada kan pernah ada... pada sebuah gelora yang menghanyutkan jiwa..
Diri hanya bisa dapat merasa tanpa dapat meraih damba pada titik keindahan yang sekejap akan menghujamkan raga dengan bilah bilah tajam sang pedang....

Hidup memang sekejap, tapi penuh dengan dilema yang yang menyesakan..
bertahan mencoba tersenyum walau pahit terteguk ....
Fatamorgana membayangi ....
Berlandaskan apa... Nyata tiada seindah mimpi, indah hanya sebuah ilusi... damai merupakan fantasi...

Hela nafas terhenti, akan tetap sendiri dalam lubang kelam.
Hanya sebuah tubuh yang akan membusuk ..... menyatu dengan bumi..

Hidup... adalah Tanya
Hidup bukan mimpi...
tapi nyata yang telah terjalani itulah hidup...

(.. Merasa apa yang terasa dalam lenung jiwa)

Jumat, Januari 20, 2012

Dalam keheningan

Selembut masa menyentuh rasa....
Selembut gelora menyentuh jiwa...
Mahligai indah yang tertata atas damba pada altar dunia
Mungkin semua akan tetap menjadi damba
Cumbui khayal ... Terlarakan nyata
Masih adakah kata mungkin ... atau sudah tiada
Menjalani dengan segala kemunafikan yang menyesakan...
Atas irama yang tak tertata dan berhamburan
Mengerti dan mencoba menyadari

Senin, Januari 09, 2012

Goresan pertama di 2012

Ingin rasanya menarikan tangan tuk merangkai kata atas rasa jiwa yang meradang
Tapi kelu sang aliran darah tak menembus sang otak...
Bongkahan rasa tertanam dalam jiwa... Menumpuk semakin menumpuk
Merejam setiap sudut lenung jiwa yang perlahan semakin membusuk
Aroma nanar atas yang ada, pada tapak yang tak mungkin dapat terulang
Menarilah .... rasa itu dalam lenung jiwa...
Memapahku semakin dalam lara
Diantara mega yang tiada rasa....
Add caption




Rejaman, sang Otak  bersama rintik hujan pada sebuah senja

Aku hanya seorang manusia dalam mahligai dunia fana

Batas kemampuan yang tiada ada...
Aku hanya seongok tubuh yang semakin rapuh di terjang gelombang
Mencoba selalu bertahan
Tak ingin mengaduh walau pedang tajam menusuk tubuh
Aku hanya sebuah daging yang semakin membusuk
Terinjak, terhempaskan, Terbaikan.......
Tiada ku inginkan arti.... atas mimpi indah sang duniawi...
Tak banyak yang dapatku beri ... hanya serpihan pasir yang mengetahui dan itupun terhempas oleh gelombang yang membawanya  berlalu....
 Aku tertinggal bersama rejaman otakku .... menanti terkaparnya sang tubuh