Sabtu, Oktober 29, 2011

Strees stadium 1,1


Cabikan itu mengores perlahan
Lalu cepat.... merobekan semua
Tekanan itu tak bisa tertahan... perlahan tapi terus dan terus bertambah
Sungguh ku tak berdaya
Perih goresan mengoyak jiwa dan raga
Meneteskan darah perlahan tapi luka begitu banyak
Tubuh telanjang dengan berpakaian darah mengalir tanpa henti ....
Sesak mulai terasa diatara keperihan sambil menahan beban berat semakin berat
Gemetar seluruh raga .... dengan pandagan mata yang tiada makna
menanti hembusan terakhir terlepas dari raga....


kucabik jiwa renta yang terhujam
Kutelanjangi serpihan raga
Atas dunia yang menyesakan rongga
Kutelanjangi tanpa ada yang tersisa
Sudah ... sudah ..... berat sunguh 
kutak kuat menahan sentakan atas apa yang terlanda
Serpihan belum tertata
Serpihan belum terangkai
Kini .... semakin hancur bertembaran
Sudah ... apakah ini kehidupan
Sudah ..... apakah harus terakhiri dengan hembusan terhenti
Tiada dimengerti sungguh tiada dimengerti 

Stress stadium 1

Kumaki akan diriku
Kuhenyakan dalam raga pada titik hitam pekat akan kehidupan
Dimana nafas terhembus begitu menyesakan
Tiada dapat tangan ini mencari pegangan
Semua terasa menepis
Terhenyak dalam kelam....
Tersudut dalam ketidak berdayaan
Mengapa.... hempasan gelombang aral ini melambungkan ku dan menghujamkanku
Dimana pedang pedang tajam dengan indahnya menyayat kalbu
Apakah semua ini akan ada akhir atau takan pernah akan berakhir
Dalam ketidak adaan akan sebuah makna
Dalam kebimbangan dalam langkah
Terjeritlah sang batin akan diri yang tiada daya
Hanya ada kata lirih ...... Tak terdengar

Tiada hamparan cahaya yang tertangkap sudut jiwa
Kelam menyeluruh
Hitam mengulung
Hidup inilah hidup
Jiwa terkapar tiada daya,bersama raga yang tiada daya

Sendiri hanya sendiri dan jangan berharap akan adanya raih sebuah damai
Karena saat tangan itu mencoba meraih desakan itu semakin meneggelamkan jauh kedalam tak tercapai

Senin, Oktober 24, 2011

Bersitan Jiwa merandang sukma

Sepenggal nyawa bersama rasa pada bersitan jiwa
Ketiada tahuan tentang apa yang sedang menekan dalam rongga
Mengapa ada, yang menginginkan perih ada terkaparnya sang raga demi sebuah cipta yang entah apa
Dunia.... dalam dunia terhadap kepuasan semu
Jiwa yang menghadang dalam benteng keterbatasan penglihatan
Apa yang dimau sang hidup ... dalam dilematik nafas yang sepenggal
Manusia dengan nanar keinginan menghujam apa saja yang dikatakan benar
Tanpa peduli apa yang yang akan terjadi, untuknya terhadap yang dilakukannya
Menyakiti, tersakiti, menginginkan kebahagian yang mungkin tiada
Apakah hidup itu ....
Menggigil sang jiwa menatap jingga bergulir diakhir senja.....
Entah kapan datangnya sang  akhir itu
Jiwa menahan tabir yang tersentakan
Dimana semuanya mempengaruhi rongga yang mendesir disekujur tubuh
Mencabik cabik ......
Mengalirkan desiran perih penuh nanar

Jumat, Oktober 21, 2011

Sesuatu yang terasa


Tlat habis kata dalam sudut bibir yang mengambarkan arti tentang sebuah getaran sukma dimana pencarian celah mengapai titik jawab pada sebuah bersitan yang mendesak. Rasa untuk sebuah hal yang tidak diketahui meski mungkin diketahui atau bahkan lebih dari ketidaktauan barang kali juga menjadi sebuah ketidakingintahuan.
Perjalanan hari saat sang surya perlahan menghangatkan bumi, membangunkan jiwa-jiwa untuk mencari arti atas kehidupan yang mesti terjalani. Tapi tidak dengan jiwa ini, setiap jengkal nafas yang terhembuskan membawa tanya tentang apa yang sedang terasa dalam lenung jiwa, menghantarkan pekat dalam benak bersama titian waktu, tergelutilah tanya, tercumbuilah rasa, tapi tak diketahui apa yang sesungguhnya arti sentakan yang ada. Hangat mentari itu terasa menyentuh meski tak ternikmati oleh tubuh, letih menahan sebentuk getaran diantara ada dan tiada.
Terus melangkahlah sang waktu membawa jiwa serta tubuh dalam ruang yang berbeda, menatap terang sang mentari, terliat hanya dipelupuk mata. Diri menahan sukma atas getar yang tak kunjung hilang, atas rasa yang tak kunjung terketahui atas jiwa yang entah apalah. Benak hanya bertanya apakah sesungguhnya terasakan, makna. Kelabu semakin memeluk erat tanpa bisa menolak untuk meniadakan, syair peredam jiwa tak terlontarkan. Terteriakanlah kegalauan jiwa ............. Apakah gerangan.
Remasan demi remasan semakin terasa, semakin tak terurai..... tapi mengurai raga dan jiwa kedalam semakin dalam pada ketidak tahuan yang mendesak.  Sendiri .... 

Rabu, Oktober 19, 2011

Sentakan dalam dada

Tak pernah kau tau betapa sentakan ini begitu menyesakan terasa
Meskipun diriku sendiri tak tau mengapa hal itu ada dalam lenung jiwa
Sebentuk rasa yang entah apa namanya...
Tak penah kau tau apa arti yang terasa sedangkan akupun tidak
Apa yang ada tergetarkan dalam jiwa yang membayangi setiap rasa yang berserakan

Gundah menyeluruh
Mencumbu tubuh yang lunglai
Dimanakah arti, dimanakah apa yang tergali dari sebuah rasa yang merajai jiwa
Tiada ada ...
Tiada terjawab...
Sesak menekan dada
Mendesak perlahan membunuh jiwa..
Hantarkan hitam semakin hitam dalam titian yang tiada

Tak pernah kau tau mengapa hal itu ada... sedangkan sebetulnya tak ada
karena apa yang ada belum tentu sesungguhnya ada
Akupun tak tau mengapa ada, dalam lenung jiwa pada sebuah rasa ....
Sedangkan semua telah menghilang jauh .....
Sedangkan semua telah tak mungkin terjamah dalam sebuah sentuhan jemari

Terasa apa yang terasa ..
Menekan terus menekan...
Sesak semakin dalam...
Tersadari tak menyadari untuk apa terjadi dalam diri

Minggu, Oktober 09, 2011

DAN

dan pergilah kealam itu
temui apa yang ingin kau temui
Cumbui apa yang kau cumbui..
Raih lah apa yang ingin kau raih
Jangan biarkan rasa itu mengulung diri
Menyeretmu dalam hampa hati
dan pergilah kealam itu
Pasrahkan akan apa yang terjadi
Dimana hari ini bukan mimpi tapi esok tetap ilusi
dan pergilah kealam itu
Karena mungkin apa yang kau ingini akan terjadi
Pergilah dan pergilah...
lepaskan diri dari raga, lepaska penat yang selalu terasa didalam ronga dada
dan pergilah dan pergilah....


Katakanlah

Katakanlah pada aku Tuhan... tentang gelombang yang terasa menyesakan dada
Atas aroma yang tak ingin kutebak dengan salah
Katakanlah pada aku Tuhan .... dengan jelas ... bukan bersitan yang selalu mengoyahkan jiwa
Katakanlah pada aku Tuhan ... katakanlah pada aku Tuhan
Jangan kau beri kebimbangan semata
Aku tak ingin kelam hinggap dalam lenung jiwaku...
Aku tak ingin luka kehidupan yang ada semakin membunuhku
Katakanlah pada aku Tuhan ... atas tusukan yang mencabik sukmaku
Katakanlah pada aku Tuhan... katakanlah ...........................

Sabtu, Oktober 08, 2011

Masih

kupandangi seraut wajah meski lewat layar kaca
Masih kurasa bait kata terdahulu
Kutelaah senyum manis itu...
Indah sepintas tapi pedih didalam
Untaian rasa yang tak terungkapkan....
Yang pernah kurasa manis kecupan indah bibir itu
Kutelaah ... bait wajah bisu
Apa sebernarnya yang terjadi
Sehingga batin terhenyakan meski engan
Mata itu tak beraura...
Tiada sedikitpun cahaya
Pekat dalam melekat jauh kedasar
Tak dapat tersentuh ... meski mencoba menyentuh

Terpandangi gambar mati sang hati
Memang suatu rahasia hati...
Tapi keindahan yang ingin teringini bak sebuah mimpi tak tersinggahi...
Mengapa begitu nanar jalan hidup yang terlukiskan..

Sungguh tak bisa kusentuh lebih dalam
Hanya samar yang menengelamkan
Dalam tatapan nanar jiwa

Sore disaat langit mendung

Sudut mata dipenuhi kelam langit hitam
Serta gemuruh suara mesin kendaraan... yang memekikan telinga
Tung tung ..tung ... suara es tung tung pun menyemaraki suasana
Beberapa ekor semut hitam mundar mandir .... entah apa yang dicari ...
Kusandarkan tubuhku pada tembok disela ruang....
Apa yang ada dalam hati ini serasa lenyap ...
Hanya menyisakan kekosongan jiwa....
Sesak yang menekan ....
Gemuruh hanya terdengar telinga atas kehidupan dunia yang fana



Kunikmati setiap tegukan kopi ....
kupandang jauh awan hitam ....
Kenapa kau sembunyikan sang mentari ...
Sehingga tidak indah sore ini
Mengapa kau tak turunkan hujan bumi ini
Biar sejuk terasa tubuh ini

Kupandang lekat .....
sambil menikmati kopi hangat yang perlahan dingin
dengan irama hati yang kosong ...

Sakit otak

Ingin kurebahkan diri sejenak....
Meski luruh jiwa itu belum tentu usai

Tekanan yang ada semakin menekan dalam
Membuat sukma melayang layang
Tiada tentu atas arah ia terbang
Letih ... dengan hembusan nafas yang dalam

Bersama rintik hujan yang menghujam
Mengapa ada risau jiwa yang tercumbui hitam
Menyeretku dalam kelam
Menelanjangiku ...
Memperkosaku
Pada kehidupan yang sesak .....
Apakah aku berbeda dengan mereka....
Atas setiap getar atas panggilan jiwa...

Saat gelap menyelimuti altar bumi

Mata memandang kelam altar dunia
Ramai terliat kasat mata
Kelap kelip duniawi
Menutupi akan jati diri
Lupa hati ...
Nafsu yang dicumbui..
Mengindahkan sisi kemurnian hati
Mencengkram dalam ....
Menghenyakan sukma yang merintih
Membodohi yang terasai

Dan

Kuterjaga dipagi ini
mendung menyelimuti bumi
seiring irama jiwaku yang mengundang rasa
Entah mengapa kau masih ada
Padahal kibasan sembilu pedang mengores luka
Buat apa terasa ... jika yang ada hanya fatamorgana
Kuterdiam menekan dalam asa
Tapi sukma terbang tak diam
Dinding kosong sebuah ruang
Kupejamkan mata menelaah ...
Tiada ....
Kutak kuat masuk jauh lebih dalam

Dan

jangan hanya kau liat aku
jangan hanya kau pandangin aku...
karena takan luruh rasa ini
jangan kau hanya menatap
tapi dekaplah aku
agar luruh rasa jiwa ini meski hanya sesaat



.................


Akhirnya nekad Juga

Rasa itu menekan semakin dalam
telah kucoba kupungkiri sekian lama...
BUat apa ada..
Buat apa masih menjelma
saat hadir menyentuh jiwa

Kupandangi seraut wajah jingga
Masih sama kutemui berkas yang ada
Pada nanar jiwa dan senyuman
Keindahan atas sunggingan tak sebanding nanar yang terkuak dari mata
Mengapa...
untuk apa aku menelusuri dalam
Bukakah itu telah menjadi bait lampau
Masih terdiam tanpa bekas
Hanya menatap tak berarah
Tak menemukan jawab ... atas mengapa?

Surya itu takan pergi



Surya itu takan hilang
Meski ia tak terliat pandangan
Surya itu takan pernah pergi
Hanya diri yang merasakan
Surya itu selalu hadir tanpa diminta
Menghangatkan kehidupan

Jika dia pergi sebetulnya dia tidak pergi
Dia menghangatkan sisi lain pada dunia ini
Jika dia pergi sebetulnya dia memberi sesuatu untuk kehidupan ini
Dimana kelam itu hadir, Dimana rembulan redup yang terliat
Dimana kehidupan beristirahat
Dia tidak pergi, Dia hanya memberi keindahan untuk sisi lain dari kehidupan
Untukku kita untuk semua untuk kehidupan dunia...


Senin, Oktober 03, 2011

Mungkin saja


mungkin indah dunia itu
saat semua kita rasa indah
bukan dari sebuah fikiran yang membuat hal itu terjadi...
tapi lebih jauh dari apa yang kita rasa
fikiran adalah kesemuan
Dimana saat kita emosional ... maka hilanglah keindahan itu
Sirna bagai debu tertiup angin
Sedangkan bila kita rasa melalui hati
Keindahan itu akan abadi
Karena hati sungguh murni dalam merasa
tiada yang membebaninya bila sudah mengapai sebuah damai
Keihklasan dalam menjalani
Tuk sebuah rasa bukan yang terliat dalam kasat
Mungkin...

Dalam Gelap

Diantara kegelapan tertemui kedamaian
Diantara kedamaian belum tentu itu sebuah kegelapan
Apa yang terasa adalah makna atas yang ada
Tanya akan sebuah getaran sukma
Menguak seluruh segi tanpa bisa terjabarkan
Menerawang, mencari
.................
Henti tiada terhenti, meski nanar hati mencabik diri
Mahligai indah duniawi, tak terjamahi
Kalkulasi gema dalam getaran sukma
Tak terkuak saat tersimpulkan oleh fikiran
Mungkin benar, mungkin tidak
Arah kemana sang hidup dalam penentuan pada sebuah getaran yang terus mengoda jiwa raga
Hanya kelam tertemui
Tertatih ... mengapai hasrat gelora yang menerjang
Hitam, terpuruk dalam
................
Dalam gelam hitam kelam kehidupan
Bersama raga dan jiwa letih
Mungkin akan tertemui sebuah jawab yang dinanti
Sehingga tak ada andai ..... bila, jika, atau angan berserta mimpi
Semoga ...
Apa yang menjadi arti dari getaran itu dapat terjabarkan bersama kelam dalam gelap yang merengkuh dalam ....