Selasa, Juni 21, 2011

tapi entah dimana

Pada sebuah titik kini kuberada
Bak sebuah persimpangan
Pada sebuah titik kini kuberada
Yang tak dapat kugapai dan teraih
Pada sebuah titik kini keberada
Hanya mampu merasa tiada pernah dapat mengetahui
Pada sebuah titik kini kuberada
Tapi entah dimana titik itu berada

Dendang jiwa aroma rasa
Diantara ketiadaan nyata terpandang hanya rasa yang bersayat memenuhi rongga
Dalam hentakan menyesakan dada
Mengeleparkan rongga sukma
Begitu mahalkan arti sebuah damai itu
Untuk kehidupan dan perjalanan penjejakan
Adakah apa yang ada dalam menapaki dapat teraih sedangkan asa yang terasapun belum terketahui
Jejali dengan segala pemungkiran hanya untuk mengindahkan arti bersitan sukma
Tak mengerti sungguh tak mengerti
Hanya sesak yang mengelorakan jiwa menghempas dan menghempaskan

Minggu, Juni 19, 2011

Kau ada Tapi Tiada


“Sebuah catatan atas risau jiwa yang menginginkan sebuah damba atas mahligai indah dunia”

Hari terus berganti, dimana beberapa musim telah berlalu, liku kehidupan terus hadir menerpa dan menerjang, Kehidupan terus berjalan meski merangkak, tertatih mencoba menapaki meski gamang raga menjejaki altar dunia, bersama perih atas luka yang terdalam berserta sayatan sayatan baru yang mengiris perlahan.

Berjuta catatan – catatan kecil telah terangkai dengan bermacam irama kepedihan yang terasa, memekikan aral yang mengema, meneriakan risau jiwa yang terhujam atas perjalanan kehidupan yang mesti terlewati walaupun tak teringini.

Dendang jiwa terhadap kehidupan, dimana perjalanan terisi dengan berjuta tanya, berjuta jawab, berjuta kegalauan, berjuta keinginan, tapi hanya terhenti pada sebuah 1 (satu) titik yakni Damai, dimana akan terasa tapak menjejaki fana altar dunia, dapat menghirup udara meski tak segar, dapat menikmati keindahan meski buta.

Tapi tiada dapat terasa, keinginan itu hanya berwujud damba, dimana aral yang ada penuh menyesaki rongga dada, menghabiskan oksigen yang harus tertampung, membuat apa yang terasa menjadi sesak, serta dimana fikiran terpacu tapi tak menemukan jawab, terus mencoba menalar tapi tak dapat tertembus dengan teori yang terungkap membuat remasan yang maha dasyat dalam otak.

Mata hanya dapat menatap, hidung hanya bisa mencium aroma, bibir dan lidah hanya bisa berucap sepenggal kata, tapi hati adalah yang bagian yang terluas pada sebuah rasa atas mahligai kehidupan dunia.

Senin, Juni 13, 2011

Mungkin

Mungkin dunia itu penuh kekecewaan
Yang begitu memuakan
Mungkin dunia itu penuh pertentangan
Yang sangat menyakitkan
Mungkin dunia itu tidak indah
Yang terasa sesak dalam jiwa
Mungkin dunia itu tiada kedamaian
Yang begitu penuh dengan hampa
Mungkin tak mungkin
Mungkin tak mungkin
Tak mungkin... mungkin

Jumat, Juni 03, 2011

Saat malam tiba


Saat keremangan menyentuh diri
Disaat kelam menyelimuti
Tersirat sebuah keinginan
Tergambarkan indah dalam benak
Terlukislah guratan nadir diangkasa hitam
Altar alam dalam kesunyian malam
Dimana semua terasa dan merasuk dalam sukma
Hamparkan bersitan rasa pada goresan jiwa
Jauh sudah semua yang ada
Antara realita serta bayangan semu sang harap
Hanya mampu memandang, pada lukisan kelam sang malam
Hanya mampu mengiginkan
Karena apa yang ada hanya sebuah khayalan indah bersama malam
Tanpa dapat tersentuh ... dan hilang bersama tibanya sang awan hitam
Kunanti dan terus kunanti sebersit terang dalam kelam
Hanya malam hitam yang membuat jiwa menerawang jauh
Menjemput damba meski dalam bentuk hayalan jiwa