Kuakui rasa itu selalu hadir dalam diri
Meski saat ini kuterdiam ...
Meski aku tau rasaku itu tiada arti untukmu
Kuakui kau terlalu indah untuk kucintai...
Kuakui kau adalah dambaku
Meski hanya bersemayam dalam indah mimpi
Kuakui apa yang kurasai
Karena rasaku bukan rasa yang sesaat lalu pergi
Kuakui kau yang menjadi segala bentuk khayalku
Meski kau anggap aku menodai
Kuakui klau aku membutuhkanmu
Tuk menemaniku disisa hidupku
Kuakui aku sangat menginginkanmu... bukan sebentuk khayalan semu dan mimpi indah yang datang dan pergi
Kuingin abadi bukan sekilas dan berlalu
Kuakui kau yang teringini dengan sejuta harapan menjadi pahatan kehidupan nyata duniawi
Kuakui asa ku cintaku .... meski kau menepiskan lalu berlalu dan pergi
Kucoba menuliskan hasrat jiwa yang terasa selama menjalani hidup tuk mengapai dan pencarian makna hidup yang sesungguhnya, jatuh bangun dalam menjalani perjalanan, terangkai melalui kata, walau hanya sebuah kiasan yang mengambarkan gejolak jiwa atas diri saat menapaki kehidupan Yang Fana
Selasa, April 05, 2011
Tegarlah wahai diri
Pandanglah dunia jangan dengan hati
Landasilah dengan reality atas kehidupan yang terjalani
Apa yang teringini dan menjadi mimpi itu tiada mungkin akan hadir menemani
Sejauh mencoba tuk meraih, sejauh itu pula tenggelam dalam lautan fantasi
Tegarlah wahai diri
Ada tidaknya keindahan itu harus tetap terjalani meski penuh dengan segala kemunafikan yang mendasari
Bukan demi kau ... tapi lebih jauh untuk jiwa jiwa yang menjadi tanggung jawabmu
Korbankan segala apa keinginanmu... karena itu memang sebuah mimpi indah dalam kehidupanmu
Tak terkatakan kalau tak boleh menginginkan kedamaian untuk dirimu wahai diri... tapi kau harus terima bahwa apa yang nyata untuk kehidupan memang tiada ...
Tegarlah wahai diri
Dekaplah damai indah itu walau hanya sebatas angan
Mimpilah ... karena hanya itu yang dapat teraih
Berhentilah untuk mengejar segala apa yang teringini... karena abadi rasa itu masih akan termiliki sampai nanti meski, nyata tiada menghampiri
Tegarlah wahai diri
Hidup ini belum berhenti, meski perih selalu tercumbui disaat batin menginginkan indah duniawi
Jiwa adalah pemimpi, bersyukurlah masih ada mimpi yang membayangi ... walau lara yang tertemui
Setidaknya masih memiliki rasa untuk sebuah asa
Tegarlah wahai diri
Lihatlah realita yang telah dijalani
Telusuri lagi lebih dalam atas kehidupan yang telah terpahat dalam altar duniawi
Apa yang pernah terjalani dan teralami
Mengertilah ....
Tegarlah wahai diri
Korbankanlah segala angan dan mimpimu ... hilangkanlah dari dasar hati
Karena bila memang telah di gariskan tiada takan mungkin pernah ada
Atas indah damai terhadap rasa dan asa yang tercipta dalam sukma dan menyeluruh pada raga
Landasilah dengan reality atas kehidupan yang terjalani
Apa yang teringini dan menjadi mimpi itu tiada mungkin akan hadir menemani
Sejauh mencoba tuk meraih, sejauh itu pula tenggelam dalam lautan fantasi
Tegarlah wahai diri
Ada tidaknya keindahan itu harus tetap terjalani meski penuh dengan segala kemunafikan yang mendasari
Bukan demi kau ... tapi lebih jauh untuk jiwa jiwa yang menjadi tanggung jawabmu
Korbankan segala apa keinginanmu... karena itu memang sebuah mimpi indah dalam kehidupanmu
Tak terkatakan kalau tak boleh menginginkan kedamaian untuk dirimu wahai diri... tapi kau harus terima bahwa apa yang nyata untuk kehidupan memang tiada ...
Tegarlah wahai diri
Dekaplah damai indah itu walau hanya sebatas angan
Mimpilah ... karena hanya itu yang dapat teraih
Berhentilah untuk mengejar segala apa yang teringini... karena abadi rasa itu masih akan termiliki sampai nanti meski, nyata tiada menghampiri
Tegarlah wahai diri
Hidup ini belum berhenti, meski perih selalu tercumbui disaat batin menginginkan indah duniawi
Jiwa adalah pemimpi, bersyukurlah masih ada mimpi yang membayangi ... walau lara yang tertemui
Setidaknya masih memiliki rasa untuk sebuah asa
Tegarlah wahai diri
Lihatlah realita yang telah dijalani
Telusuri lagi lebih dalam atas kehidupan yang telah terpahat dalam altar duniawi
Apa yang pernah terjalani dan teralami
Mengertilah ....
Tegarlah wahai diri
Korbankanlah segala angan dan mimpimu ... hilangkanlah dari dasar hati
Karena bila memang telah di gariskan tiada takan mungkin pernah ada
Atas indah damai terhadap rasa dan asa yang tercipta dalam sukma dan menyeluruh pada raga
setitik penyejuk jiwa
Setitik penyejuk jiwa damba hati
Saat terasa dunia tertikam perih
Melahirkan kesenjangan atas diri
Sembilu sembilu tajam melukai
Adakah ilusi itu tetap tercumbui
Indah sukma asa yang teringini
Titian hari atas harap yang membumbung tinggi
Tiada terhenti meski badai menghampiri
Jenuh jiwa jenuh diri .... hingga maki untuk hati
Sepi sunyi mencari jawaban pasti
Atas hasrat hati yang sedang merasuki
Untuk sebuah cinta kasih duniawi
Hamparan luas sang hati
Memahat indah cinta dan ilusi
Meski mencoba mengerti
Tapi hati selalu mengingini
Sebuah cinta bukan khayalan dan mimpi
Meski selalu berujung melukai diri
Saat terasa dunia tertikam perih
Melahirkan kesenjangan atas diri
Sembilu sembilu tajam melukai
Adakah ilusi itu tetap tercumbui
Indah sukma asa yang teringini
Titian hari atas harap yang membumbung tinggi
Tiada terhenti meski badai menghampiri
Jenuh jiwa jenuh diri .... hingga maki untuk hati
Sepi sunyi mencari jawaban pasti
Atas hasrat hati yang sedang merasuki
Untuk sebuah cinta kasih duniawi
Hamparan luas sang hati
Memahat indah cinta dan ilusi
Meski mencoba mengerti
Tapi hati selalu mengingini
Sebuah cinta bukan khayalan dan mimpi
Meski selalu berujung melukai diri
Senin, April 04, 2011
Nada jiwa
Adakah semua yang ada itu menjadi nyata
Sebuah cipta asa yang terasa
Adakah semua ini bermakna
Untuk hidup dan kehidupan
Adakah apa yang terasa kau rasa
Ataukah hanya semu atas panah asmara
Memang tiada pantas terucap
Rasa indah terdamba
Memang tiada pantas ... untuk rasa indah sebuah cinta
Indah itu hanya ada dalam benak...
Indah itu hanya dalam trah mimpi...
Indah itu hanya dalam hati
Kaulah yang memiliki segala yang tercipta dalam diri
Coba menaifkan diri mengatakan tidak tapi merasai
Jujur memang tak menghasilkan apa yang terindah
Tapi mungkin pahatan kehidupan tiada ada tuk cerita indah
Karena indah itu hanya diberikan sebatas angan
Menyentuh seluruh sukma mengalir dalam raga menjadikan semakin tiada

Malam....
Menciptakan bayang indah akanmu
Yang menjadi tautan terindah dalam diri
Menjadikan segala gelora rasaku
Malam...
Bawalah aku tuk mengapai apa yang teringini
Kuingin menjamah...
Atas sebuah asa bukan sebuah angan
Malam...
Takdirkan aku tuk menatap indah dirinya
Bukan sebuah gambar belaka
Agar aku tau betapa indahnya dalamnya sebuah rasa
Malam sampaikanlah gelora jiwa
Malam sampaikan hasrat hatiku
Malam kusandarkan yang ada untuknya
Yang tercipta dari rasa yang menginginkannya ada
Wahai...
Kau yang membuatku terpana
Menjadikan hasrat yang terindah
Wahai kau yang menjadi damba dalam jiwa
Yang terundung dalam duka yang terdalam
Aku tak tau mengapa aku memilihmu tuk kucintai
Aku tak mengerti sejauh mana makna hidup ini mengapa ku ingin mengapai bayangamu
Wahai kau wanita
Diri ini menginginkanmu atas kehidupan yang tersisa
Duhai kau yang membuatku jatuh hati
Dahagaku akan sebuah cinta
Atas cita yang selalu tertanam dalam benak...
Yang tiada dapat kuhempaskan
Duhai kau wanita yang telah menjadikan asa ini ada
Tiada kupersalahkan dirimu atas cinta yang mengelora dalam diriku
Karena apa yang hadir memang tak kusadari
Kukatakan padamu bahwa kucinta, dan tiada waktu yang dapat menghempaskan rasa ini
Ku ucapkan karena rasa itu memang ada bukan sebuah permainan atas lara yang ada
Dan aku merindumu bersama dahaga akan hangatnya cintamu...
Kaulah wanita yang kucintai, yang membuatku terpana dengan cepat
Mengertikah kau ... risau hati yang tiada bertepi ... yang selalu ada hanya kamu... dan kamu...
Wahai kau wanita yang terindah yang ada dalam diri
Kau wanita....
Kau yang ada ...
Walau tak terjamah dalam nyata...
Tapi aroma kehangatan itu kuidamkan..
Segala yang ada padamu adalah kudamba
Walau sentuhan sudut mata tak pernah menangkap wujudmu
Kau wanita dengan sejuta pesona
Aroma dalam dirimu yang membuatku tuk menaruh hati padamu
Meski kita baru bertemu
Tapii......
Hadirmu begitu mempesonaku
Tiada kuingin melepasmu
Tiada kuingin meninggalkamu
Karena cipta yang ada telah terpahat dalam sukma
Kuingin sangat kuingin kau nyata
Bukan mimpi yang tiada pernah terjamah sang raga
Kau wanita..
Kau kucinta
Kau kudamba....
Tapi ... masih tiada....
Sebuah cipta asa yang terasa
Adakah semua ini bermakna
Untuk hidup dan kehidupan
Adakah apa yang terasa kau rasa
Ataukah hanya semu atas panah asmara
Memang tiada pantas terucap
Rasa indah terdamba
Memang tiada pantas ... untuk rasa indah sebuah cinta
Indah itu hanya ada dalam benak...
Indah itu hanya dalam trah mimpi...
Indah itu hanya dalam hati
Kaulah yang memiliki segala yang tercipta dalam diri
Coba menaifkan diri mengatakan tidak tapi merasai
Jujur memang tak menghasilkan apa yang terindah
Tapi mungkin pahatan kehidupan tiada ada tuk cerita indah
Karena indah itu hanya diberikan sebatas angan
Menyentuh seluruh sukma mengalir dalam raga menjadikan semakin tiada

Atas sebuah jiwa kupersembahkan nada
Malam....
Menciptakan bayang indah akanmu
Yang menjadi tautan terindah dalam diri
Menjadikan segala gelora rasaku
Malam...
Bawalah aku tuk mengapai apa yang teringini
Kuingin menjamah...
Atas sebuah asa bukan sebuah angan
Malam...
Takdirkan aku tuk menatap indah dirinya
Bukan sebuah gambar belaka
Agar aku tau betapa indahnya dalamnya sebuah rasa
Malam sampaikanlah gelora jiwa
Malam sampaikan hasrat hatiku
Malam kusandarkan yang ada untuknya
Yang tercipta dari rasa yang menginginkannya ada
Tembangku atas rindu
Wahai...
Kau yang membuatku terpana
Menjadikan hasrat yang terindah
Wahai kau yang menjadi damba dalam jiwa
Yang terundung dalam duka yang terdalam
Aku tak tau mengapa aku memilihmu tuk kucintai
Aku tak mengerti sejauh mana makna hidup ini mengapa ku ingin mengapai bayangamu
Wahai kau wanita
Diri ini menginginkanmu atas kehidupan yang tersisa
Duhai kau yang membuatku jatuh hati
Dahagaku akan sebuah cinta
Atas cita yang selalu tertanam dalam benak...
Yang tiada dapat kuhempaskan
Duhai kau wanita yang telah menjadikan asa ini ada
Tiada kupersalahkan dirimu atas cinta yang mengelora dalam diriku
Karena apa yang hadir memang tak kusadari
Kukatakan padamu bahwa kucinta, dan tiada waktu yang dapat menghempaskan rasa ini
Ku ucapkan karena rasa itu memang ada bukan sebuah permainan atas lara yang ada
Dan aku merindumu bersama dahaga akan hangatnya cintamu...
Kaulah wanita yang kucintai, yang membuatku terpana dengan cepat
Mengertikah kau ... risau hati yang tiada bertepi ... yang selalu ada hanya kamu... dan kamu...
Wahai kau wanita yang terindah yang ada dalam diri
KAU wanita
Kau wanita....
Kau yang ada ...
Walau tak terjamah dalam nyata...
Tapi aroma kehangatan itu kuidamkan..
Segala yang ada padamu adalah kudamba
Walau sentuhan sudut mata tak pernah menangkap wujudmu
Kau wanita dengan sejuta pesona
Aroma dalam dirimu yang membuatku tuk menaruh hati padamu
Meski kita baru bertemu
Tapii......
Hadirmu begitu mempesonaku
Tiada kuingin melepasmu
Tiada kuingin meninggalkamu
Karena cipta yang ada telah terpahat dalam sukma
Kuingin sangat kuingin kau nyata
Bukan mimpi yang tiada pernah terjamah sang raga
Kau wanita..
Kau kucinta
Kau kudamba....
Tapi ... masih tiada....
Sudut jiwa bersama temaram malam disebuah beranda

Duduk disini berteman angin yang berhembus, bersama segelas air putih ...
Menatap kelam atas kehidupan malam
Melepas letih atas waktu yang terlampaui, indah sukma mencumbu lara
Hadirkan malam yang semakin temaram diiringi irama hati risau jiwa mengiris perih
Benamkan diri tuk sebuah angan atas puncak hasrat yang mengelora
Hadirkan altar pembunuh sukma....
Mimpikan tentang keabadian yang indah tapi penuh duka
Menerawang entah kemana... jiwa terasa kosong
Menginginkan menjadi nyata ... apadaya hanya cumbui angan belaka
Waktu tiada menghampiri lebih terasa menjauhi, jamahan sang rasa mencipta suka dan duka tiada henti
Tak mungkin menepi karena telah menjadi aliran dalam diri
Hanya menjaga agar tetap menjadi, meski itu hanya sbuah mimpi yang menyayat hati
Hari ini esok lusa dan nanti semua takan pernah berhenti tuk mengapai apa yang menjadi damba suci
Meski apa yang terasa dianggap pelarian diri, tapi murni sang diri menginginkan atas mimpi indah penuh dengan ilusi
Teruslah termaki wahai hati, karena hidup tak mungkin terhenti sampai disini
Sampai ajal itu hadir dan menghampiri ciptakan khayalan semu yang menyeret mendekati
Disini bersama hembusan angin malam pada sebuah beranda
Kuciptakan nada walau tak seindah sang pujangga yang merangkai kata pemuja
Tertitiplah salam rindu yang mendalam atas sukma yang tak mampu menjamah
Getaran ini adalah getaran indah yang tertanam dalam begitu dalam
Membuahkan angan serta mimpi atas kehidupan, dimana maut siap menjemput dengan cepat
Sadar atau tidak tersadari tapi apa yang telah terukir dan terucap berasal dari lubuk hati dan bukan sebuah permainan duniawi
Hembusan angin itu terus menerpa ... menyentuh, mengoyahkan raga
Jiwapun pergi entah kemana .... melayang menempus dan terhempas....
(tulisan 40 menit)
Minggu, April 03, 2011
Sebuah kata jiwa

Teruntuk cintaku – 3 April 2011 (00.32)
(sebuah kata dari Hasrat rasa manusia)
- Prolog -
Getaran jelmaan keindahan
Tiada munafik
Sebuah rasa hasrat jiwa
Meskipun berbentuk angan
Rangkuman lukisan batin terhadap kumandangan pancaran asa
Murni ...putih serta tulus dan suci
Jamahan getaran terhadap hasrat yang terpahat
Membuahkan keinginan atas angan tak terbendung
Menjadikan rona indah tak terjamah
Tiada munafik tertuangkan lewat kata menjadikan nada nada atas irama kehidupan
Benar tidak benarnya Asa itu tetap sebuah Dogma keinginan teringini pada diri setiap insan
Itulah cinta... menjadikan manusia ada dan tiada,
Menapak serta gamang pada perjalanan langkah hidup
Tiada terpungkiri tak ingin memungkiri hanya mengambarkan rasa cipta karya sang jiwa

- Aku dan rasa ku terhadap angan atas jiwa yang menginginkan Indahnya cinta –
Dimana apa yang ada atas sebuah hasrat itu selalu terindamkan dalam bentuk angan, tertanam jauh dalam lubuk hati, terukir, menjadikan sebuah kisah atas hidup yang terjalani. Mengerti dan tidak di mengerti, mengapai meraih keinginan yang terlandasi pada sebuah getaran halus sang jiwa, menyadari meskipun lebih cenderung tak disadari tentang kehadiran bersitan jiwa terkumandanglah asmara membara memupuk sebuah dilema, tersayatlah sang batin dimana setiap rasa itu hadir dalam lenung.
Dari sekian banyak yang terlampaui atas nadir kehidupan, insan manusia selalu mencoba meraih makna akan diri untuk kehidupan terhadap landasan yang mencoba tuk digapai, lewat sebuah khayal indah yang membuahkan hasrat serta gelora yang tak dapat disangkal dan dihentikan oleh sang nalar, begitu banyak keagungan yang terangkai, lewat kata ataupun sebuah sketsa, banyak gelora suka senang tergambarkan dengan jelas meski kadang samar. Jiwa jiwa rintih akan keindahan yang menghujam raga menyeluruh. Tersampaikan terus terungkapkan meski arti yang ada belum tentu dapat teraih dengan nyata, mengerti atau tidaknya insan tetap meraih meski apa yang teringini teraih perih tapi itulah dunia atas kehidupan semesta.
Jiwa menginginkan, bak haus sang dahaga untuk meraih sebuah asa yang ada... jauh melangkah jauh meraih jauh pengapaian kadang tidak diperdulikan hanya ingin meraih walau tiada terpedulikan, hasrat hasrat yang meregang kosong serasa tak bernyawa tanpa tujuan yang lain selain mengapai dan terus mengapai, hidup dalam perjalanan pencarian asa (cinta) benarkah akan hal itu ataukah asa itu hanya sebuah fatamorgana, dentuman dentuman yang ada bak bom yang siap untuk meledak serta akan meluluh lantahkan segala yang ada dalam diri bila tak teraih .... khayalan demi khayalan indah membawa duka tercipta, menganggap takan bisa hidup tanpa terengkuhnya sebuah asa (cinta) atas kemurnian yang terpahat dalam dada, tak bisa tersentuh hanya dapat terasa ....
Naiflah sang diri bila merasa bila tak terlandaskan dengan nyata, terpendamlah sang sukma, terkuburlah sang raga, tiada gairah dalam menjalani hanya terasa bersitan perih sang hati, mengalir pada sentakan jantung memompa sang darah pada setiap sudut tubuh. Tiada tempat berpijak hanya terasa gamang dalam menapaki rimba kehidupan. Nyeri yang ada tiada dapat terlukiskan oleh kata, gelap sudah perjalanan kehidupan yang nyata, keindahan yang semula begitu indah berbalik membunuh perlahan sang raga dengan sayatan-sayatan tipis pada hati dan terasa sakit menyeluruh dalam raga. Buram sudah kehidupan dimana hidup serasa bagai terhenti. Dasyat sungguh dasyat hasil cipta rasa atas asa (Cinta) dapatkah terhenti begitu saja ..... TIDAK .... karena bila rasa itu telah hadir dan memang benar hadir serta tulus dirasa. Rasa itu tak mudah udah dihilangkan bahkan mungkin tak dapat di hilangkan sampai ajal menjemput raga.
Tertulis apa yang ada, tergema apa yang tercipta mencoba menghadirkan bersitan yang mengelora, meskin nada yang terlahir adalah nada pembunuh sukma. Pijak kaki tak menapak untuk mencari jawaban atas risau yang melanda ... untuk apa ada untuk apa tercipta mengapa begitu terpahat dalam pada sebuah sukma sanubari jiwa. Hanya kata hanya kalimat menjadikan semua terasa nikmat meski tiada sama dengan seluruh yang terasa tapi... merupakan gambaran samar yang tercipta.
Disini bersama racun dunia (rokok, cappucinno) dan Sebuah Laptop yang setia menemani diri yang terkumkum dalam keinginan atas keindahan dunia hasil dari cipta rasa yang indah meski hanya sebuah khayal bagi diri. Telusuri makna yang ada pada setiap insan tentang apa sebenarnya makna hadir rasa itu, mempelajari dengan seksama tapi tetap saja tiada kepuasan didapat... tengelam terus tenggelam karena keinginan itu semakin menghujam ... tiada yang salah atas apa yang terasa, tiada yang salah atas apa yang menjelma karena semua adalah murni terasa, meski masih dalam sebuah angan belaka, hidup memerlukan sebuah mahligai keindahan sehingga tercipta sebuah kedamaian dan pada akhirnya akan mampu menjejaki kehidupan serta menantang segala aral yang melintang dalam roda kehidupan.
Waktu terus berlalu masih saja sibuk dengan keinginan diri, tiada naif damai itu sangat teridamkan dimana setiap insan memerlukan insan lain tuk menemani setiap gerak dalam langkah kehidupan, tak mungkin menjalani sendiri karena hidup penuh dengan suka duka dan dilema, Manusia adalah insan yang lemah meski tertulis mahluk paling sempurna, dikatakan lemah karena manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain.
Dan aku adalah seorang insan dengan segala kekurangan yang begitu banyak dimana dilema kehidupan ini cenderung kutelan sendiri, tiada yang sempurna pada diri hanya sebongkah tubuh berisi dengan peluh dunia yang terangkum dalam jiwa yang merana... tertulis hanya dapat tertulis meski tulisan penuh dengan segala aral, karena itulah yang terasa sukma dan jiwa. Bukan tak menyadari akan kaidah diri dalam menapaki arti kehidupan ini, tapi hanya ingin mengetahui apakah tiada akan pernah ada damai
kehidupan atas rasa yang mengelora itu terasa dalam setiap jengkal hentakan nafas dengan nyata... indah sungguh indah dalam angan tapi terapan dalam kanvas kehidupan itu tak ada....
Waktu yang ada mungkin semakin akan tiada lagi, diri hanya dapat memandang... diri hanya dapat merasa.... diri hanya dapat berangan tuk meraih sebuah damai indah ciptaan rasa yang terwujud pada sebuah asa (cinta)
Rasa hadir
Rasa menjelma
Rasa terpahat dalam lenung jiwa
Berkumandang ...
Bergelora ....
Terus dan terus ....
Menjadikan hasrat yang begitu besar
Rasa itu ...
Jiwa ini ...
Menginginkan ...
Bukan sebuah angan belaka tapi nyatalah yang ada
Titik titik noda...
Nadir jiwa yang menyeluruh
Bertasbihkan asa yang terindah
Hanya khayalan semu yang teraih... mimpi indah pada setiap langkah
Timbulah kemunafikan, pemungkiran apa yang ada dan tercipta
Peredaman gelora yang terasa .... menghantarkan sukma meregang dalam dilema
Mungkin benar bila kemurnian asa itu tiada dapat dipungkiri, tiada dapat dihempaskan dan tiada dapat dilupakan serta ditiadakan
Indah damba, indah khayalan, indah damai mimpi atas asa untuk insan insan yang diberi oleh Nya....
Tapi ... entah buat diri ....
Tapak ini masih tertapaki ... indah damba itu masih memenuhi diri, membawa kealam bawah sadar..
Tak urung sang raga terlempar perih... dinding dinding kosong dicumbui...
Sudut sudut sepi kehidupan adalah teman sejati diri ...
Tiada naif terasa dan menjadi khayalan indah dalam setiap waktu meski hanya gambar yang menemani...
Pembuktian itu telah terbukti ... Putih suci asa itu hanya merupakan khayalan indah semu atas kehidupan ...
Bukan buat kalian tapi buatku ...
Kudapat memberi, aku dapat membuat tapi tak buat diri
Jalani terus menjalani meski hujaman menyeret dan menyeret kedalam lembah lara .... tapi kemurnian asa itu tetap termiliki.. tanpa kemunafikan seperti yang pernah terucap dan takan pernah ingkar... meski cenderung tidak benar.
Waktu itu semakin sempit mungkin tiada akan ada hari esok tapi kata hati selalu berkata .... biarkan rasa itu ada walau hanya akan membuat dilema, biarkan segala kemunafikan itu hanya diri yang mengetahui tetaplah tersenyum walau setiap sudut pandang itu terasa nanar, landasilah dengan asa yang ada meski tak terjelma dengan nyata, walau hanya tercumbu lewat bayang semu tapi mungkin hanya itulah pahatan kehidupan yang telah tergariskan untuk diri.... biarkanlah biarkanlah... sampai ajal menjemput raga...
(21:27 wib)
Langganan:
Komentar (Atom)